Oleh: Nur Rasyida Isnaeni Peserta Latihan Khusus Kohati (LKK) Cabang Pangkep.
Perempuan di era modern menghadapi dinamika psikologis yang semakin kompleks. Di satu sisi, perempuan memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan, karier, dan ruang publik. Namun di sisi lain, tuntutan sosial yang melekat pada perempuan justru semakin berlapis. Perempuan diharapkan menjadi pribadi yang kuat, mandiri, berprestasi, namun tetap lembut, penuh empati, dan sesuai dengan standar sosial yang berlaku. Kondisi ini memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan psikologis perempuan.
Secara psikologis, perempuan dikenal memiliki sensitivitas emosional yang tinggi. Sensitivitas ini bukanlah kelemahan, melainkan potensi untuk membangun empati, kepedulian sosial, dan kemampuan komunikasi yang baik. Namun, ketika sensitivitas tersebut tidak diimbangi dengan dukungan lingkungan yang sehat, perempuan rentan mengalami tekanan psikologis seperti stres, kecemasan, hingga depresi.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi psikologi perempuan adalah standar sosial dan budaya, terutama standar kecantikan dan peran gender. Media sosial kerap menampilkan gambaran “perempuan ideal” yang sulit dicapai, sehingga banyak perempuan mengalami krisis kepercayaan diri, perbandingan sosial, dan perasaan tidak cukup baik. Hal ini berdampak pada konsep diri perempuan yang menjadi rapuh dan mudah terpengaruh oleh penilaian eksternal.
Selain itu, perempuan juga sering memikul beban peran ganda, seperti peran sebagai pelajar atau pekerja sekaligus sebagai anak, ibu, atau istri. Beban ini menuntut perempuan untuk selalu mampu mengatur emosi, waktu, dan tanggung jawab secara bersamaan. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, perempuan cenderung menyalahkan diri sendiri, yang akhirnya berdampak pada kesehatan mental.
Namun demikian, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental perempuan mulai meningkat. Perempuan kini lebih berani menyuarakan perasaan, mencari bantuan profesional, dan membangun ruang aman untuk saling mendukung. Pendekatan psikologi modern juga menekankan bahwa perempuan berhak untuk lelah, beristirahat, dan memilih jalan hidupnya sendiri tanpa tekanan sosial yang berlebihan.
Pada akhirnya, memahami psikologi perempuan bukan hanya tanggung jawab perempuan itu sendiri, tetapi juga tanggung jawab masyarakat. Lingkungan yang suportif, pendidikan yang setara, serta penghargaan terhadap perbedaan pengalaman perempuan akan membantu menciptakan kesehatan psikologis yang lebih baik. Perempuan yang sehat secara mental adalah fondasi penting bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

