Opini: Pilar Pembaruan Perspektif KOHATI

Oleh: Adhelia Shinta Peserta LKK HMI Cabang Pangkep

Pembaruan dalam tubuh KOHATI bukan sekadar perubahan strategi atau program, tetapi sebuah transformasi cara berpikir, bersikap, dan bergerak dalam menjawab tantangan zaman. Makna pembaruan bagi KOHATI adalah kemampuan untuk terus berkembang tanpa melepaskan akar nilai-nilai keislaman, keperempuanan, dan kebangsaan yang telah menjadi fondasi perjuangannya. Pembaruan ini menuntut keseimbangan antara menjaga identitas dan beradaptasi dengan realitas sosial yang dinamis.

Dalam konteks ini, pilar ideologi negara menjadi landasan penting bagi KOHATI dalam berkiprah. Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan harus menjadi kerangka berpikir dalam setiap gerakan KOHATI, sehingga perjuangan perempuan tidak terlepas dari kepentingan bangsa dan kemanusiaan. KOHATI perlu memaknai ideologi negara bukan sebagai batasan, tetapi sebagai ruang etis untuk memperjuangkan keadilan gender, martabat perempuan, dan kesejahteraan masyarakat.

Di sisi lain, pilar intelektualitas menuntut kader KOHATI untuk terus mengasah nalar kritis dan wawasan keilmuan. KOHATI tidak cukup hanya bergerak dengan semangat, tetapi juga dengan ilmu. Sebagai agen perubahan, kader harus mampu membaca realitas sosial, memahami persoalan perempuan, serta menawarkan solusi yang rasional dan kontekstual. Intelektualitas ini menjadi bekal bagi KOHATI sebagai role model di kampus dan masyarakat.

Pilar moral dan akhlak juga menjadi tantangan tersendiri. Di tengah derasnya arus individualisme, budaya instan, dan krisis nilai, KOHATI dituntut untuk tetap menjadi teladan dalam akhlak, integritas, dan kepemimpinan yang beretika. Tantangan ini bukan untuk melemahkan, tetapi justru membentuk karakter kader yang tangguh, berprinsip, dan berkeadaban.

Sebagai penggerak di kampus, KOHATI harus mampu menginisiasi ruang diskusi, advokasi, dan pemberdayaan perempuan secara konstruktif. Sementara itu, di masyarakat, KOHATI dituntut lebih sensitif terhadap persoalan nyata seperti kekerasan berbasis gender, kesehatan reproduksi, dan ketimpangan sosial. Peran ganda ini menuntut daya juang, adaptasi, dan kolaborasi yang kuat.

Pada akhirnya, kemampuan KOHATI untuk survive bergantung pada kesanggupannya melakukan pembaruan tanpa kehilangan jati diri. Pembaruan perspektif bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkaya cara pandang agar lebih relevan, inklusif, dan progresif. Dengan demikian, KOHATI dapat terus menjadi kekuatan strategis dalam membangun perempuan yang berdaya, berakhlak, dan berkontribusi bagi bangsa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.effectivegatecpm.com/hd7rhxvf8?key=2e290d3a5abe0c81092e16a918972f6f
Scroll to Top