Merajut Kembali Fitrah: Refleksi Psikologi Perempuan dalam Pemikiran Ibnu Khaldun

Oleh: Haryuni Haidir Peserta Latihan Khusus Kohati (LKK) Cabang Pangkep

Dalam kegiatan Latihan Khusus KOHATI (LKK) yang baru-baru ini dilaksanakan, pemateri Nur Amin Saleh menyampaikan materi yang cukup membuka cara pandang kita, khususnya tentang psikologi perempuan. Pembahasan ini tidak hanya berbicara soal emosi atau perasaan perempuan secara umum, tetapi mengajak peserta untuk melihat lebih dalam hakikat diri manusia melalui pemikiran Ibnu Khaldun dalam buku Mukaddimah. Dari sini, kita diajak untuk kembali bertanya pada diri sendiri: sejauh mana kita benar-benar mengenal diri kita sebagai perempuan?

Memahami Perempuan melalui Pemikiran Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun dikenal sebagai tokoh pemikir besar yang banyak membahas tentang masyarakat dan peradaban. Dalam Mukaddimah,ia menjelaskan bahwa kepribadian manusia dibentuk oleh lingkungan, kebiasaan, dan kondisi sosial. Jika dikaitkan dengan perempuan, hal ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya makhluk biologis, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk kehidupan sosial dan peradaban.

Menyadarkan perempuan akan fitrahnya bukan berarti membatasi perannya. Justru, ini adalah proses mengenali potensi diri yang sudah Allah berikan. Fitrah perempuan mencakup kelembutan, kekuatan emosi, ketahanan mental, dan kasih sayang. Semua itu menjadi modal penting bagi perempuan dalam menjaga hubungan sosial dan membangun kehidupan bermasyarakat.

Mengelola Emosi, Belajar, dan Ego

Materi ini juga menekankan pentingnya perempuan mengenali dan mengelola emosi, terus belajar, serta mengendalikan ego. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk kepribadian. Emosi yang tidak terkelola bisa melemahkan diri, begitu juga ego yang berlebihan dapat menghambat proses belajar dan kedewasaan.

Tujuan dari memahami psikologi perempuan ini adalah agar perempuan bisa menjadi pribadi yang autentik, yaitu menjadi diri sendiri secara utuh. Perempuan yang autentik mampu menjalankan perannya tanpa harus kehilangan jati diri dan nilai-nilai fitrahnya.

Kepemimpinan perempuan tidak selalu harus ditunjukkan dengan cara-cara keras atau maskulin. Kepemimpinan bisa hadir melalui kemampuan mengatur, mendidik, merawat, dan menyatukan orang-orang di sekitarnya. Perempuan yang memahami fitrahnya tidak akan merasa rendah diri dalam memimpin, karena ia memimpin dengan kesadaran dan ketulusan.

Materi yang disampaikan oleh Nur Amin Saleh ini menjadi pengingat bagi kader KOHATI bahwa perjuangan perempuan bukan hanya tentang kesetaraan secara formal, tetapi juga tentang mengenali kembali jati diri sebagai perempuan. Dengan memahami psikologi perempuan yang bersumber dari pemikiran Islam, kita dapat membentuk perempuan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara emosional dan spiritual.

Pangkep, 12 Januari 2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.effectivegatecpm.com/hd7rhxvf8?key=2e290d3a5abe0c81092e16a918972f6f
Scroll to Top