MAKALAH
PERUBAHAN IDENTITAS NASIONAL BERBASIS PANCASILA DI TENGAH ARUS DIGITALISASI DAN KECERDASAN BUATAN

Dosen Pengampu: Andi Miftahul Amri, S.H., M.H
ANDI FAIZAL 25690109179
MUH. AFDAL 25690109175
MUSMULIADI 25690109156
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BONE 2026
RUMUSAN MASALAH
1. Di era Masyarakat 5.0, yang ditandai dengan penggunaan AI dan transformasi digital yang pesat, bagaimana algoritma AI dan konten digital global memengaruhi identitas nasional Indonesia, terutama di kalangan generasi Z dan Alpha?
PEMBAHASAN
Masyarakat 5.0 adalah era di mana teknologi seperti Internet of Things, AI, dan algoritma semakin masuk ke dalam kehidupan sehari-hari manusia.1 Bagi Generasi Z (lahir 1997–2012) dan Generasi Alpha (lahir 2010-an ke atas), ruang digital bukan lagi sekadar alat. Sebagian besar, identitas situs web seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dibuat oleh algoritma kecerdasan buatan.
1. Mekanisme Pengaruh Utama
AI menggunakan personalisasi ekstrim (For You Page/TikTok, Reels/Instagram). Dengan melihat perilaku pengguna, seperti waktu tonton, like, share, dan komentar, sistem ini terus menyajikan konten yang serupa. Hasilnya adalah:
1) Filter Bubble & Echo Chamber → Pengguna semakin terpapar konten global yang sesuai dengan preferensi mereka, seperti K-Pop, gaya hidup Barat, dan tren viral global. 2
2) Homogenisasi Budaya: Nilai kolektif seperti gotong royong dan keberagaman Indonesia kalah dengan nilai individualisme, konsumerisme, dan standar kecantikan global. 3
3) Identitas Hibrida: Generasi muda memiliki identitas campuran, bangga dengan Indonesia tetapi memiliki aspirasi, gaya hidup, dan bahasa yang lebih internasional. 4
1 Yeti Rohayati, “Digital Transformation for Era Society 5 . 0 and Resilience : Urgent Issues from Indonesia,” 2024, 1–16.
2 Irsanti Widuri Asih, Sakina Nusarifa Tantri, and Suci Rahmawati Prima, Global and Local Cultural Contestation in the Digital Age : Indonesian Gen Z ’ s Responses to Foreign Cultures and National Identity (Atlantis Press SARL, 2024), https://doi.org/10.2991/978-2-38476-340-5.
3 Asih, Tantri, and Prima.
4 Asih, Tantri, and Prima.
2. Dampak Positif
1) Peluang untuk Berekspresi dan Mempromosikan Budaya: Banyak Gen Z menggunakan alat AI seperti CapCut, AI filter, dan Midjourney untuk menghasilkan konten lokal yang viral, seperti tarian daerah remix, cerita rakyat modern, dan promosi UMKM. Mereka mungkin “kreator nasionalis digital” yang menyebarkan Pancasila ke seluruh dunia.
2) Kesadaran Global dengan Akar Lokal Meningkat Banyak orang yang tetap bangga sebagai orang Indonesia sambil mengadopsi perspektif global, seperti mendukung film lokal atau UMKM di media sosial.
3. Dampak Negatif (Lebih Dominan Saat Ini)
1) Krisis Identitas dan Melemahnya Nasionalisme: Studi 2025 menunjukkan bahwa banjir konten asing menyebabkan banyak Gen Z mengalami “krisis identitas”. Mereka kurang memahami sejarah dan prinsip Pancasila daripada tren global.5
2) Nilai-nilai individualisme dan “FOMO”, atau ketakutan kehilangan, telah mengubah cara orang berkumpul dan berkolaborasi. Gaya hidup konsumtif, bahasa campur Indonesia-Inggris, dan preferensi konten asing meningkat. Perilaku yang Dipengaruhi Algoritma: Konten yang sensasional, kontroversial, dan dangkal dipromosikan oleh algoritma, yang mengurangi kemampuan berpikir kritis dan menurunkan pemahaman nilai-nilai nasional.
3) Fenomena #KaburAjaDulu,menunjukkan bahwa beberapa generasi Z terpengaruh oleh gambaran kehidupan ideal di luar negeri yang diberikan algoritma, sehingga mereka memilih untuk migrasi atau “kabur” ke luar negeri.
4. Situasi Terkini di Indonesia (2026)
1) Gen Z menghabiskan banyak waktu di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.
5 Gen Z Report, “About the Report,” n.d.
2) Kementerian Komunikasi dan Informatika (PMK) menyatakan bahwa ruang digital merupakan “ruang hidup” bagi Generasi Z dan Alpha, sehingga diperlukan pendekatan bijak dan literasi digital yang berbasis Pancasila.
3) Studi 2025–2026 menunjukkan bahwa algoritma AI cenderung melemahkan otentisitas dan memperkuat identitas digital yang sering tidak sesuai dengan kenyataan, menyebabkan tekanan mental dan pergeseran identitas nasional.
5. Penguatan Identitas Nasional Berbasis Pancasila sebagai Respons Strategis
Pancasila masih dapat berfungsi sebagai filter moral dan dasar identitas nasional yang kuat, meskipun AI mendorong homogenisasi budaya. Pengembangan algoritma dan konten digital dapat menggunakan nilai-nilai Pancasila sebagai panduan moral teknologi.
Generasi Z memiliki banyak kesempatan untuk memperkuat identitas bangsa. Mereka membuat konten budaya Indonesia yang kontemporer dan viral dengan alat kecerdasan buatan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Limbong dkk. (2025)6 menemukan bahwa sembilan puluh persen responden Generasi Z menyatakan kebanggaan terhadap identitas nasional melalui aktivitas digital mereka. Selain itu, Sinaga (2025)7 menemukan bahwa Generasi Z melihat identitas nasional sebagai penting, tetapi masih abstrak, dan bahwa budaya Indonesia harus dikemas ulang untuk lebih sesuai dengan tren digital.
Roadmap AI Nasional 2025–2045 pemerintah menetapkan “Etika AI Berbasis Pancasila”. Metode ini diharapkan akan meningkatkan nilai lokal daripada mendominasi nilai global. Dengan demikian, identitas nasional berubah menjadi identitas hibrida yang terus berkembang yang berbasis pada Pancasila dan mampu bersaing di tingkat global.
KESIMPULAN
Identitas nasional Generasi Z dan Alpha menjadi lebih cair dan hibrida berkat algoritma AI dan konten digital global di era Masyarakat 5.0. Identitas mereka masih ada, tetapi semakin terpecah dan berdampak di seluruh dunia. Jika tidak ada tindakan yang kuat (pendidikan, peraturan, dan konten positif), kemungkinan nilai Pancasila akan hilang.
6 Daniel Isar et al., “Peran Generasi Z Dalam Memperkuat Integrasi Nasional Melalui Pemanfatan Teknologi Digital Di Kota Pematangsiantar” 4, no. 3 (2025): 82–91, https://doi.org/10.30596/jcositte.v1i1.xxxx.
7 Article Info, “Persepsi Generasi Z Terhadap Tantangan Pembentukan Identitas Nasional Di Era Digital : Studi Kualitatif Deskriptif” 3 (2025): 39–44, https://doi.org/10.24246/jwp.v3i1.18696.
Namun, generasi ini mungkin justru menjadi generasi yang paling kuat dalam mengangkat identitas bangsa ke tingkat internasional jika dilakukan dengan cara yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Asih, Irsanti Widuri, Sakina Nusarifa Tantri, and Suci Rahmawati Prima. Global and Local Cultural Contestation in the Digital Age : Indonesian Gen Z ’ s Responses to Foreign Cultures and National Identity. Atlantis Press SARL, 2024. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-340-5.
Info, Article. “Persepsi Generasi Z Terhadap Tantangan Pembentukan Identitas Nasional Di Era Digital : Studi Kualitatif Deskriptif” 3 (2025): 39–44. https://doi.org/10.24246/jwp.v3i1.18696.
Isar, Daniel, Valentino Limbong, Kevin Rasi, Dauly Pardede, Joshua Simangunsong, Lambertus Sidabutar, and Daulat Nathanael Banjarnahor. “Peran Generasi Z Dalam Memperkuat Integrasi Nasional Melalui Pemanfatan Teknologi Digital Di Kota Pematangsiantar” 4, no. 3 (2025): 82–91. https://doi.org/10.30596/jcositte.v1i1.xxxx.
Report, Gen Z. “About the Report,” n.d.
Rohayati, Yeti. “Digital Transformation for Era Society 5 . 0 and Resilience : Urgent Issues from Indonesia,” 2024, 1–16.
