Oleh:Adhelia Shinta Peserta Latihan Khusus Kohati
Psikologi perempuan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan pengaturan emosional yang secara alamiah berkembang melalui pengalaman biologis dan sosial. Perempuan cenderung memiliki sensitivitas emosi yang tinggi, sehingga lebih cepat merasakan, mengenali, dan merespons perasaan baik perasaan diri sendiri maupun orang lain. Sensitivitas ini bukan kelemahan, melainkan potensi besar dalam membangun empati dan kedewasaan psikologis jika dikelola dengan baik.
Dalam proses belajar, pengaturan emosi memegang peran penting bagi perempuan. Emosi yang stabil membantu perempuan lebih fokus, reflektif, dan mampu memaknai pengalaman belajar secara mendalam. Sebaliknya, emosi yang tertekan akibat tuntutan sosial, beban ganda, atau kurangnya ruang aman dapat menghambat konsentrasi dan kepercayaan diri. Karena itu, proses belajar perempuan tidak hanya soal kognitif, tetapi juga soal penerimaan diri dan dukungan emosional.
Kaitannya dengan ego, perempuan sering kali berada pada posisi yang paradoks. Di satu sisi, perempuan dituntut untuk rendah hati, mengalah, dan mendahulukan orang lain. Di sisi lain, ketika perempuan mulai menyuarakan kebutuhan dan batas dirinya, ia sering dicap egois. Padahal, dalam perspektif psikologi yang sehat, pengelolaan ego bukan berarti meniadakan diri, melainkan mampu menyeimbangkan antara kepedulian terhadap orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Ego yang matang pada perempuan justru tampak dari kemampuannya mengatur emosi, mengambil keputusan secara sadar, serta belajar dari pengalaman tanpa kehilangan empati. Ego yang tidak terkelola dapat muncul dalam bentuk ledakan emosi, rasa bersalah berlebihan, atau penyangkalan terhadap kebutuhan diri. Oleh karena itu, proses pendewasaan psikologis perempuan menuntut ruang belajar yang aman untuk mengenali emosi, memahami batas diri, dan membangun kepercayaan diri.
Pada akhirnya, psikologi perempuan mengajarkan bahwa pengaturan emosi, proses belajar, dan pengelolaan ego adalah satu kesatuan yang saling berkaitan. Perempuan yang mampu mengelola emosinya dengan baik akan lebih terbuka dalam belajar, serta memiliki ego yang sehat bukan egois, tetapi berdaya. Dari sinilah lahir perempuan yang matang secara psikologis, mampu memimpin diri sendiri, dan memberi kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

